Pada postingan kali ini, saya akan sedikit membahas tentang bahan makanan dan zat gizi, oke.. langsug saja tanpa membuang waktu, berikut penjelasannya..
BAHAN MAKANAN DAN ZAT GIZI
- Pendahuluan
Zat gizi adalah, komponen
pembangun tubuh manusia dimana zat tersebut dibutuhkan untuk pertumbuhan,
mempertahankan dan memperbaiki jaringan tubuh, mengatur proses dalam tubuh dan
menyediakan energi bagi fungsi tubuh.
Zat gizi yang harus ada
dalam bahan pangan agar tubuh tetap sehat, dibedakan menjadi golongan protein,
lemak, dan karbohidrat yang disebut zat gizi makro, serta vitamin dan mineral
yang disebut zat gizi mikro. Air juga merupakan bagian penting dari gizi yang
baik.
Manusia memperoleh
kebutuhan zat gizi pentingnya dari bahan pangan nabati dan hewani. Biokimia
tanaman, hewan dan manusia mempunyai banyak persamaan. Karena itu manusia
membutuhkan komponen pembangun tubuh yang sama seperti yang terkandung dalam tanaman
dan hewan.
Ilmu pertanian dan Teknologi
Pembudidayaan Pemanenan
CO2 +
H2O + Zat gizi + Energi
------- Bahan pangan Tkt I +
Bahan pangan Tkt II + Bahan Pangan Tkt III
-------
Sayuran, buah,bijian Daging, Unggas, Ikan Telur, susu
Konsumsi - Gizi Pengolahan – Pengawetan
Gizi – Ilmu dan Teknologi Pangan
Gambar. Hubungan antara ilmu kehayatan dan daur kimia
bahan pangan alami
Bahan pangan alami
merupakan sistem hayati yang dapat cepat rusak sesudah dipanen. Karena
kebutuhan manusia akan makanan dan saat panen biasanya tidak terjadi dalam
waktu yang bersamaan, maka bahan pangan tersebut perlu diawetkan melalui
pengolahan
Berbagai macam bahan
pangan berperan sebagai pembawa zat gizi dan mempengaruhi stabilitasnya.
Kerusakan zat gizi berlangsung secara berangsur tergantung dari cara
pengolahannya. Berbagai macam cara pengolahan dapat mempercepat atau menghambat
perubahan kadar zat gizi.
Semua bahan pangan mentah
adalah komoditi mudah rusak, sejak panen, pemotongan hewan bahan ini mengalami
kerusakan secara berangsur akibat berbagai jenis kerusakan biologis. Faktor
utama kerusakan bahan pangan adalah kadar air yang secara hayati aktif dalam
jumlah besar, seperti pada sayuran daun dan daging, dapat rusak hanya dalam
beberapa hari, sedangkan biji-bijian kering yang hanya mengandung air
struktural dapat disimpan bertahun- tahun.
Penyebab utama kerusakan
bahan pangan adalah pertumbuhan mikroba, kegiatan enzim, dan perubahan kimia,
dan ternyata pertumbuhan mikroba merupakan penyusutan utama bahan pangan.
Kegiatan dan reaksi ini berlangsung paling cepat pada aktivitas air yang
tinggi, didukung pula oleh faktor suhu, pH, dan faktor lingkungan lainnya. Asas pengawetan bahan pangan adalah
didasarkan pada pengawetan semua faktor lingkungan tersebut. Sebagai contoh mikroba membutuhkan
suhu optimum untuk pertumbuhannya. Suhu yang lebih tinggi merusak
pertumbuhannya, sedangkan suhu yang lebih rendah sangat menghambat
metabolismenya.
- Penghilangan (penurunan kadar) air, pengeringan, dehidrasi dan pengentalan
- Perlakuan panas , blansing, pasteurisasi dan sterilisasi
- Perlakuan suhu rendah, pendinginan, pembekuan
- Pengendalian keasaman, fermentasi dan pemberian zat tambahan
- Berbagai macam zat kimia tambahan
- Irradiasi
Karena makanan olahan
harus disimpan sampai dikonsumsi antara dua masa panen, maka pengemasan yang
baik merupakan pembantu dalam pengolahan di samping dasar dan cara
pengolahannya.
Metabolisme mikroba
memerlukan banyak air bebas. Penghilangan air yang secara hayati aktif melalui
pengeringan atau dehidrasi menghentikan pertumbuhan mikroba. Penghentian ini
juga menurunkan aktivitas enzim dan reaksi
kimia. Ketengikan komponen lipid menurun apabila air struktural yang
melindunginya dibiarkan tetap seperti semula.
Pengaruh utama perlakuan
panas adalah denaturasi protein, yaitu
proses yang menyebabkan mikroba dan sejumlah enzim lain tidak aktif.
Pasteurisasi membebaskan bahan pangan dari zat patogen dan sebahagian besar sel
vegetatif mikroba, sedangkan pensterilan dapat didefenisikan sebagai proses
mematikan semua mikroba yang hidup. Pensterilan dengan panas merupakan proses
pengawetan pangan yang lebih efektif namun mempunyai pengaruh yang merugikan
terhadap zat gizi yang tak mantap, terutama vitamin, dan menurunkan nilai gizi
protein, terutama melalui reaksi Maillard.
Pengawetan dengan suhu rendah, terutama pengawetan dengan suhu beku,
ditinjau dari banyak segi merupakan pengawetan bahan pangan yang paling tidak
merugikan. Suhu rendah menghambat pertumbuhan mikroba dan memperlambat laju
reaksi kimia dan enzim. Aktivitas enzim dalam daging dapat berhenti akibat
penyimpanan pada suhu beku, sedangkan bahan pangan nabati perlu diblansing
terlebih dahulu sebelum dibekukan untuk mencegah
perubahan mutu yang tidak diinginkan. Penurunan vitamin akan minimum
dibandingkan dengan cara pengawetan lain. Penyebab utama kerusakan mutu adalah
karena kondisi yang kurang menguntungkan pada proses pembekuan, penyimpanan,
dan pelelehan kristal es.
Pertumbuhan mikroorganisme perusak bahan pangan sangat terhambat
dalam lingkungan yang keasamannya tinggi. Salah satu cara mengawetkan makanan
adalah dengan menurunksn pH dengan cara fermentasi anaerob senyawa karbohidrat
menjadi asam laktat. Keasaman beberapa bahan pangan dapat dinaikkan dengan
menambah zat tambahan yang bersifat asam seperti asam cuka atau asam sitrat
yang menimbulkan pengaruh penghambatan yang sama. Tidak banyak kehilangan zat
gizi akibat fermentasi. Dalam beberapa hal zat gizi dapat ditingkatkan melalui
sintesis vitamin dan protein oleh mikroba.
Zat tambahan kimia mempunyai daya pengawet terhadap bahan pangan
karena menyediakan lingkungan yang menghambat pertumbuhan mikroba, reaksi
enzim, dan reaksi kimia. Pengolahan demikian termasuk juga penggunaan zat
curing dan pengasapan daging, pengawetan sayuran dan buah melalui pemanisan,
serta perlakuan dengan berbagai jenis zat tambahan kimia. Pengaruh cara ini
terhadap zat gizi beragam, namun pada umumnya kecil.
Penyinaran dengan cara irradiasi merupakan cara pengawetan bahan
pangan yang lebih canggih. Penggunaan cara ini tidak banyak digunakan karena
penyinaran dengan energi tinggi menghasilkan senyawa baru dalam bahan pangan
yang disinari, bentuk radikal bebas yang sangat reaktif. Mekanisme radikal
bebas tidak hanya mematikan mikroba tetapi juga sangat merusak zat gizi,
terutama vitamin. Kelemahan lain cara ini adalah perubahan yang cukup besar
dalam cita rasa.
Secara umum dapat
dikatakan bahwa pengolahan yang digunakan tidak banyak menurunkan zat gizi
bahan pangan.. Metode pengolahan bahan pangan perlu dikembangkan dengan prinsip
mampu mempertahankan persentase zat gizi dalam jumlah yang lebih besar. Faktor
yang perlu dikembangkan dalam usaha lebih mempertahankan zat gizi, harus
mencakup perkembangan lebih lsnjut dalam teknologi pengolahan bahan pangan,
berbagai segi penyimpanan bahan pangan dan penyalurannya, sistem kelembagaan
bahan pangan, dan yang terakhir, penyiapan makanan di rumah.
Stabilisasi
zat gizi bahan pangan
Perhatian terhadap
stabilitas zat gizi selama pengolahan pangan lebih banyak ditekankan pada vitamin, karena vitamin mudah hilang
melalui pencucian, perusakan oleh panas, cahaya, dan oksidasi.
Vitamin yang secara alami
terdapat dalam bahan pangan mungkin berada dalam bentuk koenzim yang sifat
stabilitasnya berbeda. Sebagai contoh, vitamin B6 terdapat sebagai
piridoksin, piridoksamin, dan piridoksal. Piridoksal lebih tidak stabil
terhadap panas dibandingkan dengan piridoksin.
Beberapa contoh kerusakan vitamin :
- Thiamin mudah mengalami pemecahan dalam larutan netral dan alkalis bahkan sampai suhu rendah
- Riboflavin bersifat stabil terhadap panas, dalam larutan dan oksidator kuat
- Niasin merupakan vitamin yang paling stabil (stabilitas yang tinggi terhadap panas dan cahaya pada seluruh kisaran pH makanan
- Piridoksin, stabil terhadap panas dalam larutan asam dan alkalis tetapi peka terhadap cahaya pada pH 6.0
- Asam askorbat, mudah dioksidasi
- Vitamin A, mudah teroksidasi dan peka terhadap cahaya, pada tanaman vitamin A terdapat sebagai provitamin A yang disebut karotenoid. Senyawa ini sifatnya sama dengan vitamin A hanya sifatnya lebih stabil
- Vitamin D, peka terhadap oksigen dan cahaya
- Vitamin K, peka terhadap cahaya
- Alfa tokoferol (aktivitas Vitamin E), mudah teroksidasi
- Pengaruh pengolahan terhadap mineral tidak begitu nyata
- Pada lemak isomerisasi cis-trans selama pengolahan bahan pangan dapat menurunkan nilai hayati asam lemak tak jenuh
- Kadar asam amino dalam suatu protein tidak secara kuantitatif menunjukkan nilai gizinya karena pembatas dalam penggunaan protein adalah nilai cerna protein. Pengolahan dapat menaikkan dan menurunkan nilai denaturasi protein oleh panas dapat mempermudah hidrolisis protein oleh protease dalam usus halus, namun demikian, panas juga dapat menurunkan mutu protein akibat perombakan beberapa asam amino tertentu.
ZAT GIZI DALAM BAHAN PANGAN MENTAH
Manipulasi
genetik untuk memperbaiki mutu gizi sayuran
Penelitian terhadap
keragaman genetik menunjukkan bahwa kadar zat gizi dapat diperbesar, walaupun
memerlukan teknologi yang lebih tinggi. Kemajuan teknologi yang berkembang
sekarang ini memudahkan untuk dapat meningkatkan zat gizi tanaman sesuai dengan kebutuhan manusia.
Setiap zat gizi harus disekati
sendiri-sendiri berdasarkan sistemnya sendiri yang sudah menjadi bagian
metabolisme dari zat tersebut. Sejarah mencatat bahwa kuantitas bahan pangan
berhasil dinaikkan melalui revolusi hijau. Mungkin mutu bahan pangan
sekarang dapat dinaikkan dengan cepat tanpa mengorbankan kuantitasnya.
Penelitian genetik
klassik oleh Tatum dan Beadle telah
mengorbitkan teori satu gen satu enzim
yang menunjukkan bahwa tanaman dapat dimanipulasi secara genetik untuk
menghasilkan gizi yang dibutuhkan manusia. Hasil penelitian biokimia genetik
menunjukkan bahwa jalur biosintesis yang nantinya memberikan hasil akhir
berlangsung dibawah pengendalian genetik. Salah satu contoh yang telah berhasil
dianalisis jalur biosintesisnya adalah
jalur yang menghasilkan senyawa karoten
dalam tomat.
Pengaruh lingkungan juga
sangat mempengaruhi kadar zat gizi tanaman. Antaraksi genotipe dengan
lingkungannya juga terjadi. Sejumlah penelitian telah berhasil dilakukan untuk
melihat pengaruh budi daya pertanian terhadap kadar zat gizi.
Tomat
(Lycopersicon esculentum)
Untuk sayuran penelitian
yang lebih banyak dilakukan pada tanaman tomat dibandingkan spesies lain.
Sebagian besar informasi ini dapat dipakai sebagai model penelitian manipulasi
genetik untuk meningkatkan kadar zat
gizi sayuran lain. Dengan menggunakan berbagai lokus yang mempengaruhi beberapa
pigmen, ahli biokimia berhasil menemukan jalur biosintesis senyawa karoten.
Dari susut gizi pentingnya penelitian ini terletak pada kadar provitamin A
dalam bentuk β karoten pada buah tomat.
Senyawa karoten dalam
buah tomat merah masak adalah likopen, α karoten, β karoten dan pigmen lain
tertentu, serta poliena dalam jumlah kecil. Senyawa likopen (tidak mempunyai
aktivitas vitamin A) menyusun kurang lebih dari 95% pigmen dan memberikan warna
merah. Sebagian besar sisanya berupa β
karoten ., dan telah diteliti pengendalian genetik terhadap kandungan
pigmen ini.
Dari beberapa laporang
penelitian ditunjukkan bahwa kadar provitamin A dapat ditingkatkan sampai 30
kali melalui rekayasa genetika. Tetapi warna buah berubah dari merah ke jingga
akibat kenaikan kadar β karoten dan penurunan kadar likopen. Penerimaan
konsumen terhadap varietas baru ini tidak begitu baik karena adanya perubahan
warna tersebut.
Usaha penelitian Steven
telah mengembangkan pengetahuan tentang genetika cita rasa , mutu dan kadar gizi buah tomat. Usaha awalnya
berkaitan dengan komponen kimia cita rasa dan sifat turunannya. Hasil
penelitiannya menemukan adanya pengendalian genetik komponen penting yang
menentukan mutu buah tomat. Perbedaan cita rasa terutama ditentukan oleh
konsentrasi 2-isobutiltiazol serta
nisbeh antara zat padat dan asam. Masing-masing dari ketiga komponen ini
diketahui dikendalikan secara genetik. Hal ini merupakan model klassik guna
pendekatan segi gizi lain dari buah dan sayuran.
Wortel (Daucus carota)
Wortel biasanya dimakan
dalam keadaan mentah atau setelah dimasak. Warna jingga cerah wortel disebabkan
kandungan α karoten, β karoten yang
tinggi. Berbeda dengan tomat, akar tanaman wotel ini mengandung sedikit atau
tanpa likopen. Karena warnanya jingga menyala wortel merupakan sumber
provitamin A yang terbaik dibandingkan dengan sayuran lain. Kadar provitamin A
wortel kurang lebih sepuluh kali buah tomat. Kadar zat gizi dan mutu buah
wortel dipengaruhi oleh banyak faktor seperti varietas, tempat tumbuh, suhu
kadar air,tingkat kemasakan dan lain-lain.
Karena pentingnya warna
jingga (provitamin A) dalam wortel, cukup banyak penelitian dilakukan terhadap
karoten dan poliena. Dengan menggunakan sistem model untuk biosintesis
karotenoid dalam tomat, Gabelmen, dkk,
menemukan adanya pengendalian genetik biosintesis karoten dalam wortel. Dalam
satu rangkaian penelitian genetik diketahui bahwa lima gen mengendalikan biosintesis
karotenoid.
Dari rangkaian-rangkaian
penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa varietas`wortel dapat
dikembangkan menjadi wortel berkonsentrasi karoten (provitamin A) sangat tinggi. Karena vitamin
A yang diperoleh dari konversi β karoten
lebih besar daripada yang diperoleh dari α
karoten, maka lebih menguntungkan apabila konsentrasi β karoten ditingkatkan. Pada semua genotipe yang telah diteliti
ternyata konsentrasi α karoten tidak
pernah melebihi konsentrasi β karoten.
Jagung (Zea mays)
Pada umumnya diketahui
bahwa perbedaan jenis jagung banyak pati
dengan jenis jagung manis diatur oleh suatu gen tertentu yang sudah diketahui,
yang menurunkan laju perubahan gula menjadi pati.Dari pengetahuan tentang gen
ini telah berhasil dikembangkan jagung
manis yang lebih manis.
Penemuan yang lebih
menarik dalam penelitian genetik intuk meningkatkan kadar zat gizi adalah
jagung berlisin tinggi. Dari
penelitian genetik yang telah dilakukan telah dapat mengubah mutu protein
jagung. Manipulasi genetik untuk
meningkatkan mutu gizi dan kadar zat gizi tanaman yang nilai ekonominya tinggi
merupakan tahap awal yang menarik perhatian. Berbagai temuan penting mengenai
zat gizi lain dan spesien tanaman lain akan terjadi dengan menggunakan sisten
model genetika-biokimia untuk sintesis provitamin A, mutu protein, dan komponen
cita rasa. Kapasitas peningkatan nilai gizi melalui manipulasi genetik
sangatlah menarik, walaupun untuk itu masih dibutuhkan banyak penelitian lain
sebelum diperoleh pengetahuan yang berguna bagi ahli pemuliaan tanaman untuk
dapat mengembangkan varietas dengan nilai gizi yang lebih besar daripada yang
sudah ada sekarang.
Pengaruh
Budi daya pertanian terhadap susunan bahan pangan
Pangan
nabati
Kadar zat gizi tanaman
pangan yang baru dipanen dapat beragam, keragaman ini diakibatkan oleh
banyaknya faktor yang saling bergantungan, terutama faktor genetik, sinar surya, curah hujan, tofografi, tanah, lokasi,
musim, pemupukan, dan derajat kemasakan. Susunan hasil tanaman yang sama
dari galur yang sama tetapi berbeda tumbuh pada tempat yang berbeda, sering
berbeda. Oleh karena itu dianjurkan untuk menganalisis contoh segar bahan
pangan itu sendiri dan bukan mengambil data dari tabel yang tersedia.
Banyaknya varietas
tanaman pangan menyebabkan susunan zat gizi dan stabilitasnya berbeda. Varietas
yang secara genetik dekat, agak serupa kandungan zat gizinya, sedangkan
varietas yang secara genetik tidak ada hubungannya biasanya cukup berbeda. Pengetahuan
adanya fungsi fisiologi dari vitamin dan mineral telah lama berkembang, dan
kebanyakan ahli pemulia tanaman lebih memfokuskan penelitian dibidang warna,
cita rasa, tekstur, serta produksi persatuan luas, tetapi dengan perkembangan
ilmu pengetahuan maka penelitian untuk meningkatkan zat gizi dalam tanaman
semakin berkembang.
Hasil penelitian Tatum, Beadle dan lain-lain menunjukkan
adanya hubungan yang erat antara genetika dan biokimia. Enzim tanaman
dibutuhkan untuk sintesis bahan pertumbuhan yang nantinya dapat menjadi vitamin
bagi yang mengkonsumsi tanaman itu. Walaupun kemampuan mensintesis senyawa ini
dikendalikan oleh faktor genetik, jumlah faktor ini dalam jaringan tanaman
dipengaruhi juga oleh faktor lingkungan ( cahaya. Panas, air susunan, tanah ).
Sejumlah kecil zat gizi
dapat diukur dengan metode kimia dan biologi. Kerjasama antara ahli pemuliaan
tanaman dan ahli biokimia gizi meningkatkan secara nyata nilai gizi bahan
pangan utama, sayuran, dan buah. Faktor genetik yang berbeda mungkin menentukan
perkembangan sampai ukuran yang diinginkan, warna, atau kandungan zat gizi
hasil tanaman pangan.Tidaklah dapat memperoleh semua mutu yang baik dari
tanaman, karena itu perlu dipilih diantara nilai gizi, warna, ukuran dan
lain-lain. Bahkan diperlukan juga mendidik masyarakat untuk dapat menerima
bahan pangan yang agak berbeda dari biasanya namun nilai gizinya lebih tinggi..
Sudah cukup banyak kemajuan yang diperoleh
dalam usaha meningkatkan kandungan zat gizi secara genetik. Kadar asam askorbat
dalam buah tomat berhasil dilipat duakan sampai 50 mg/100g bahan, sehingga buah
ini mengandung asam askorbat setara dengan buah jeruk. Kadar karoten dalam buah
tomat dengan cara serupa berhasil dinaikkan sampai sama dengan wortel .
Jagung yang ada sekarang
tidak sama dengan jagung 50, 500 tahun yang lalu. Menurut hasil suatu
penelitian ternyata 50 generasi dari suatu seleksi menghasilkan jagung dengan
kadar protein maksimum 19,5% dan minimum 4,9%. Namun jagung dengan kadar
protein tinggi secara proporsional mengandung lebih sedikit lisina dan
triptopan ( dua asam amino esensial yang jumlahnya sedikit dalam protein jagung
), karena itu nilai hayatinya lebih rendah. Jagung protein tinggi ini juga
lebih kaya akan leusina yaitu asam amino yang sudah berlebihan dalam protein
jagung. Walaupun kandungan asam amino pada jagung protein tinggi lebih tidak
seimbang dibandingkan dengan jagung biasa, ada kemungkinan untuk mengembangkan
jagung dengan protein mutu gizinya lebih tinggi dari varietas tersebut.
Meskipun asam askorbat
terdapat dalam semua jaringan tanaman, konsentrasinya sangat beragam. Mutu asam
askorbat dalam tiap galur tanaman dikendalikan oleh faktor keturunan, tetapi
juga dipengaruhi oleh suhu, intensitas sinar, dan kadar air. Kadar zat gizi
hasil tanaman pangan sebagian besar di bawah kendali genetik. Dalam beberapa
hal, beda antara galur tanaman yang sama, cukup besar . Lebih mudah
meningkatkan kadar zat gizi hasil tanaman pangan secara genetik dibandingkan
dengan pendekatan lain.
Peranan
faktor lingkungan
Jumlah
dan Intentitas cahaya
Asam
askorbat
Cahaya mempengaruhi
susunan sayuran dan buah. Penelitian yang dilakukan terhadap tanaman tomat
menunjukkan bahwa, tomat yang ditumbuhkan di luar mengandung asam askorbat
lebih besar daripada yang ditumbuhkan di bawah naungan. Beberapa sayuran yang diteliti pada sore hari mengandung asam
askorbat lebih besar daripada pagi hari. Dari beberapa penelitian yang telah
dilakukan terdapat hubungan yang erat antara penyinaran matahari dengan kadar
asam askorbat dalam tanaman.
Jumlah dan intensitas
cahaya mempengaruhi susunan tanaman, terutama asam askorbatnya.
Suhu
Suhu optimum untuk laju
pertumbuhan maksimum setiap spesies tanaman biasanya bukan merupakan suhu optimum untuk sintesis
dan penyimpanan zat gizi dalam jaringan. Kondisi suhu yang dapat memacu
penyimpanan suatu zat gizi tertentu sampai mencapai maksimum sering berbeda
dengan suhu untuk zat gizi lain.
Asam
askorbat
Penelitian yang telah
dilakukan bahwa terjadi penurunan kadar asam askorbat pada daun yang belum
dipetik dari tanaman bayam, tomat, dll yang ditempatkan dalam keadaan gelap
pada suhu 5 dan 150C. Kadar asam askorbat pada semua daun menurun
bila daun ditempatkan dalam gelap, namun penurunannya lebih lambat pada suhu 50C
dibandinkan dengan 150C .
Karoten
Warna lebih cepat
berkembang padan wortel yang ditumbuhkan pada suhu 15-210C
dibandingkan suhu yang tinggi atau lebih rendah.
Suhu optimum untuk
pertumbuhan tercepat bervariasi menurut spesies tanaman, dan suhu ini tidak
selalu merupakan suhu optimum untuk kandungan zat gizi terbesar dari jaringan
tanaman.
Musim
Pengamatan menunjukkan
bahwa susunan hasil tanaman pangan yang
diperoleh dari biji-bijian dan tanaman yang sama pada musim panas ternyata
berbeda dengan hasil pada awal atau akhir musim. Hal ini kemunginan besar disebabkan
oleh perbedaan suhu, lamanya siang hari, intensitas dan spektrum cahaya, serta
faktor kecil lainnya.
Beberapa sayuran dan buah
menunjukkan kadar zat gizi terbesar bila dipenen pada musim semi, tanaman lain
pada musim panas, adapula yang jika dipanen pada akhir musim, sedangkan beberapa
tanaman tidak menunjukkan perbedaan akigat musim.
Pengaruh
lokasi
Sejumlah penelitian
memperlihatkan bahwa lokasi tumbuh dapat secara nyata mempengaruhi kadar zat
gizi dalam jaringan tanaman. Lokasi tumbuh dapat mempengaruhi kandungan zat
gizi tanaman tetapi pada umumnya pengaruhnya kecil.
Peranan
kesuburan tanah
Peningkatan kesuburan
tanah lebuh condong menaikkan hasil daripada meningkatkan mutu gizi tanaman.
Pengaruh yang kecil terhadap susunan tanaman pernah dilaporkan. Salah gizi yang
terdapat pada hewan memamah biak yang memakan tanaman yang kekurangan unsur
mikro membuktikan bahwa tanah dapat mempengaruhi kadar unsur mikro pada
tanaman. Adanya gondok endemik merupakan satu-satunya bukti adanya hubungan
langsung antara kekurangan unsur pada tanah dan salah gizi yang menimpa
populasi manusia. Hubungan antara kesuburan tanah dengan gizi tanaman masih ada
kesimpang siuran, hal ini disebabkan oleh keterkaitan yang rumit antara unsur
dalam tanah. Pemberian satu macam unsur dapat mempengaruhi ketersediaan unsur
lain. Penambahan campuran unsur dapat mengakibatkan berbagai pengaruh terhadap
tanaman yang tumbuh pada tanah tersebut.
Pengaruh
pupuk Nitrogen
Nitrogen merupakan unsur
hara yang paling sedikit terdapat dalam tanah. Tanaman ynag tumbuh di tanah
yang kekurangan Nitrogen menunjukkan pertumbuhan yang lambat, daunnya kuning,
hasilnya rendah, dan kadang-kadang proteinnya rendah.
Dari hasil penelitian
pengaruh nitrogen terhadap beberapa komponen gizi seperti, asam askorbat,
karoten, tiamin, dan mineral besi terbukti bahwa pupuk nitrogen pada tanah
berpengaruh nyata terhadap kuantitas hasil tanaman, namun tidak berpengaruh
nyata terhadap susunan zat gizi.
Pengaruh
pupuk kalsium
Jumlah kalsium (Ca) dan
magnesium (Mg) dalam tanah berpengaruh penting terhadap pH tanah. Akar tanaman
yang tumbuh pada tanah yang kekurangan kalsium ukurannya pendek dan membesar
seperti umbi serta kurang mampu menyerap dan mengasimilasi senyawa nitrat. Akibatnya gula akan terakumulasi dalam
jaringan. Dari beberapa penelitian melaporkan bahwa tidak ada pengaruh
kalsium terhadap kandungan gizi tanaman pangan.
Dari beberapa penelitian
yang telah dilaporkan pengaruh pupuk terhadap kadar zat gizi umumnya
bertentangan satu sama lain, umumnya pengaruh yang nyata adalah pada
peningkatan produksi sedangkan pengaruhnya terhadap zat gizi tidak nyata.
Pengaruh
ukuran
Kobis yang ukurannya kecil lebih kaya asam askorbat daripada yang
ukurannya besar, dan asam ini terutama terdapat dibagian tengah. Kentang yang
dihasilkan tanaman berukuran besar lebih kaya asam askorbat dibandingkan
tanaman kecil, namun kadar asam askorbat bagian kulit sama saja dengan bagian
dalam.
Kadar asam askorbat buah
persik terbesar di bawah kulitnya dan terkecil di sekeliling bijinya. Vitamin dan mineral dari biji terdapat
dalam jumlah lebih besar pada lapisan kulit. Buah dan biji yang ukurannya lebih
kecil cenderung lebih kaya zat gizi karena zat gizi terkumpul dekat permukaan.
Bahan berukuran kecil mempunyai luas permukaan persatuan berat yang lebih
besar.
Pengaruh
derajat kemasakan
Dari beberapa hasil
penelitian dilaporkan bahwa beberapa hasil tanaman pangan mencapai nilai
tertinggi pada saat belum masak. Selain itu tingkat kadar suatu zat gizi
mencapai maksimum berbeda-beda, bergantung kepada macam zat gizi dan spesies tanaman.
Water Hack Burns 2lb of Fat OVERNIGHT
BalasHapusAt least 160k men and women are hacking their diet with a easy and SECRET "water hack" to burn 2 lbs each night in their sleep.
It is effective and works on everybody.
Here's how you can do it yourself:
1) Go grab a glass and fill it up half the way
2) Now use this proven HACK
you'll become 2 lbs skinnier in the morning!